Lebaran tlah tiba…. Alhamdulillah setelah sebulan lamanya berpuasa, kini telah tiba waktunya kembali ke fitrah sefitrah fitrahnya manusia. Rasa bahagia menyelimuti kalbuku. Alhamdulillah Allah telah memberiku kesempatan untuk menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh. Suatu anugerah yang wajib aku syukuri pastinya, karena sebagai seorang wanita dewasa sunggah langka mendapatkan kesempatan untuk bisa puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan tanpa halangan.
Suasana lebaran tahun ini terasa berbeda dengan leberan –lebaran yang lalu yang pernah aku lalui. Idul Fitri kali ini, aku hanya merayakannya berdua dengan mamaku. Sepi sekali rasanya. Papaku empat hari sebelum lebaran pergi ke Bali untuk bertemu anak dan cucunya sebelum kakakku yang pertama itu mudik ke Padang, Sumatera Barat kampung halaman kakak iparku. Pada tahun ini kedua kakakku, baik yang di Bali maupun yang di Jakarta jatahnya mudik ke rumah mertuanya. Meski aku masih ditemani mama, tapi pada H +3 lebaran mama menyusul papa ke Bali. Namun semua itu tidak mengurangi makna lebaranku.
Kujalani hari pertama lebaran dengan sewajarnya. Aku dan mama bangun Shubuh, sholat dan mandi lalu berangkat ke masjid terdekat untuk menjalankan Sholat Idul Fitri. Lebaran kali ini, aku dan mama bergabung sholat Id pada hari Sabtu, 13 Oktober 2007. Hal ini tentunya bukan karena aku orang NU atau Muhammadiyah, bagiku aku adalah umat Islam, itu saja. Seperti semua orang tahu, tahun ini seperti yang juga terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini, umat Islam di Indonesia selalu dibingungkan dengan pertentangan mengenai penetapan tanggal 1 Syawal.
Perbedaan yang terjadi tak lepas dari perbedaan sistem penghitungan hari raya. Muhamadiyah menggunakan Hisab, dengan perhitungan secara astronomi. Sedangkan NU ada kombinasi antara hisab dan rukiyah. Hisab itu diperlukan sebagai hipotesis, sedangkan rukiyah adalah pembuktian bahwa pengamatan langsung apakah bulan baru atau hilal bisa dilihat atau tidak, karena itu belum tentu berbeda dan belum tentu sama. Setelah tanggal 11 Oktober 2007 selepas Magrib dilakukan rukiyah ternyata hilal tidak kelihatan, berarti harus disempurnakan Ramadhannya 30 hari dan hari raya jatuh pada 13 Oktober 2007. Namun, pada saat rukiyah hilal itu berhasil, maka hari raya Idul Fitri jatuh pada 12 Oktober 2007. Karena itu persoalannya bagi NU tetap harus menunggu pada saat datangnya tanggal 29 Ramadhan.
Namun setelah pemerintah yang menggunakan sistem rukiyah menetapkan 1 Syawal 1429 H jatuh pada hari Sabtu, kami sekeluarga memutuskan untuk meyakini apa yang diputuskan pemerintah. Dasarnya adalah kami merasa sebagai orang awam merupakan ma’mum dari imamnya. Dalam hal ini, aku dan keluargaku sebagai warga dari sebuah negara menganggap pemerintah adalah imam kami. Pemerintah adalah pemimpin dari semua warganya. Untuk itu, meski pada tanggal 12 Oktober telah ada sebagian orang yang merayakan Hari Raya Idul Fitri, aku tetap menjalankan puasa terakhirku karena aku telah meyakininya. Harus disadari perbedaan-perbedaan seperti ini memang lumrah terjadi, apalagi di negara yang heterogen seperti negara kita.
Merujuk pada semua itu, kita sebagai sesama umat Islam tidak perlu memperdebatkannya atau menjadikannya sebagai sumber konflik. Toh, kedua cara yang diterapkan dalam mencari tahu datangnya bulan baru juga pernah sama-sama diterapkan pada zaman Rasul dulu. Semuanya akan kembali kepada keyakinan dan kemantapan hati masing-masing orang.Namun, jika diminta memilih antara dua hal, berhari raya berbeda atau berhari raya pada hari yang sama dalam satu negeri, kemungkinan besar akan banyak yang memilih dan berharap agar hari raya jatuh pada hari yang sama.
Akhirnya, mudah-mudahan ke depan kriteria untuk menyatukan dapat ditemukan oleh tokoh-tokoh dan yang ahli dalam bidangnya dan menjadi hari raya yang satu, dan itu Insya Allah dapat dicapai jika ada keinginan untuk islah dan bersatu. Pada akhirnya yang ada adalah syukur Alhamdulillah kita telah melewati Ramadhan. Kita berharap dapat bersua lagi dengan Ramadhan, jika masih diberi kesempatan dan merasakan merayakan Hari Raya Idul Fitri secara bersama-sama dalam waktu yang sama. Amin Ya Robbal Alamin.